09 April 2026 07:15:00
S.A.T.E
Saat Teduh | Devotional Time
Anda belum sempat baca S.A.T.E kemarin? klik tombol di bawah:
S.A.T.E Kemarin Halaman Utama GBI Gama
Mendengarkan Bacaan Saat Teduh
Kamis, 9 April 2026
BERTAHAN DALAM KESESAKAN
Bacaan: Kejadian 16:7-16
Kemudian Hagar menamakan Tuhan yang telah berfirman kepadanya itu dengan sebutan: “Engkaulah El-Roi.” Sebab katanya: “Bukankah di sini kulihat Dia yang telah melihat aku”.
(Kejadian 16:13)
RENUNGAN FIRMAN
The Experience Project adalah salah satu komunitas dunia maya terbesar pada abad ke-21, tempat puluhan juta orang pernah berbagi pengalaman paling menyakitkan dalam kehidupan mereka. Ketika membaca kisah-kisah memilukan di dalamnya, saya merenung betapa kita amat merindukan adanya seseorang yang dapat melihat—menyelami—penderitaan kita.
Dalam kitab Kejadian, ada kisah tentang seorang hamba perempuan yang menunjukkan betapa berharganya kepedulian tersebut. Hagar adalah budak perempuan yang kemungkinan diberikan Firaun Mesir kepada Abram (baca Kej. 12:16; 16:1). Ketika Sarai, istri Abram, tidak dapat memberikan keturunan, ia meminta Abram memperolehnya dari Hagar—suatu praktek yang meragukan tetapi lazim pada waktu itu. Namun, ketika Hagar hamil, terjadi perselisihan yang mendesaknya lari ke padang gurun untuk menghindari penindasan Sarai (16:1-6).
Namun, kesusahan yang dialami Hagar, hamil dan sendirian di padang gurun yang gersang, tidaklah luput dari pandangan Tuhan. Seorang malaikat Tuhan memberi penguatan kepadanya (ay.7-12) dan Hagar berkata, “Engkaulah El-Roi” (Mahamelihat) (ay.13). Hagar memuji Allah yang melihat lebih dari yang kasatmata. Allah yang sama telah dinyatakan dalam Yesus, yang ketika “melihat orang banyak itu, tergeraklah hati-[Nya] oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar” (Mat. 9:36). Hagar bertemu dengan Allah yang menyelami penderitaannya.
Pribadi yang melihat dan menyelami penderitaan Hagar juga melihat penderitaan kita (Ibr. 4:15-16). Menerima empati ilahi dapat meringankan beban kita di tengah kesesakan yang amat menekan.
Bagaimana Anda dikuatkan dengan mengetahui bahwa Allah memahami tantangan-tantangan yang Anda hadapi? Bagaimana Anda dapat menjadi saluran empati dan belas kasihan Tuhan terhadap sesama?
TUHAN MENYELAMI PENDERITAAN KITA SEAKAN-AKAN DIA MENGALAMINYA SENDIRI.
Apakah yang saya bagikan hari ini?